Aliyah Maulizzah (03) XIIA4 Resensi
Judul buku : Orbit Tiga Mimpi
Nama penulis : Miranda Malonka
Penerbit Buku : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit Buku : 2017
Tebal Halaman : 317
ISBN : 978-602-03-3204-8
Orbit Tiga Mimpi menceritakan Asterion, Alejandro, dan Angkara. Ketiganya dipertemukan saat kelas sebelas. Karena dalam absensi kelas nama mereka berdekatan, maka mereka tergabung dalam kelompok tetap tugas Biologi.
Mereka awalnya tidak saling kenal, meskipun saat kelas sepuluh Aster dan Kara satu kelas, namun mereka tidak terlalu dekat alias kurang akrab. Ketiganya kemudian menjadi lebih akrab dalam pengerjaan tugas biologi, siapa sangka tumbuh benih-benih asmara pada ketiganya. Cinta.
Namun kisah di novel kedua Miranda Malonka ini tidak hanya tentang kisah cinta saja. Ini tentang mengejar angan-angan masa remaja. Sesuai dengan judulnya ‘Orbit Tiga Mimpi’, jalinan cerita di novel bersampul ungu ini pun mengisahkan mimpi masing-masing. Ambisi.
Asterion memiliki mimpi untuk eksis di bandnya yang beranggotakan dirinya dengan tiga temannya. Aster selalu memaksakan genre unik pada bandnya, pun ia selalu berusaha tampil cemerlang walaupun memaksakan nada-nada tinggi terlampaui saat ia bernyanyi. Masalah yang ia hadapi adalah ia semakin sadar bahwa dirinya kurang sesuai dengan bandnya. Kurang cocok.
Sementara Alejandro atau Ale bermimpi untuk mencapai hasil maksimal dalam olimpiade astronomi. Ia memang penggemar benda-benda langit semenjak dia kecil. Ia lalu berusaha untuk ikut kompetisi tersebut dengan menjadi anggota klub astronomi terlebih dahulu. Siapa sangka ia kewalahan, itu terjadi karena ia memang berhadapan dengan banyak perhitungan. Hal itu bukan kesukaan Ale. Ale selalu kalah jika berhadapan dengan matematika.
Berbeda halnya dengan Kara. Ia penulis tetap rubrik puisi pada mading sekolahnya. Ia selalu menulis tentang benda-benda langit. Hal yang sudah sangat ia sukai dan gemari sejak kecil. Puisi-puisinya selalu membuat teman-temannya kagum. Konflik yang ia hadapi ketika pimpinan mading bernama Scarlet memaksanya untuk mengganti tema tulisan. Ia mengalami dilema karena ia merasa ragu.
Terlebih akhir-akhir ini Kara bermasalah dengan hatinya. Ya, ia jatuh cinta pada Ale, sedangkan cowok itu mencintai Aster, sedangkan Aster seperti tidak menyadari hal itu. Masalah besar itu membayang-bayangi ketiganya, hingga satu hal besar terjadi. Pecah.
Kelebihan novel ini, Miranda sebagai penulis mampu membuat karakter-karakternya memiliki watak yang kuat sehingga cerita terasa hidup sekali. Hal ini akan membuat pembaca merasa betah saat membaca novel yang tebalnya hampir 400 halaman ini. Kembali ke pembicaraan soal karakter, karakterisasi tiap tokohnya memang kuat.
Komentar
Posting Komentar