Fadhila Kamila (13) XIIA4 Resensi
Entah Sejak Kapan Kota itu Tumbuh Dalam Kepalaku
Judul buku : Dongeng Pendek tentang Kota-kota dalam Kepala
Nama penulis : Mashdar Zainal
Penerbit buku : DIVA Press
Tahun terbit : 2017
Tebal halaman:
216 halaman
ISBN : 978-602-391-401-2
Buku
karya Mashdar Zainal yang berjudul Dongeng
Pendek tentang Kota-kota dalam Kepala memuat 20 cerita pendek. Terpantul
jelas dalam cerpen-cerpen tersebut bahwa Mashdar menciptakan alam imajinatif.
Sang penulis menggunakan menggunakan pola fiksionalisasi pengalaman nyata yang
disatukan dengan imajinasi. Mashdar menghadirkan berbagai realita, fakta peristiwa,
dan persoalan secara tersorot, tersirat, dan tersurat. Misalnya seperti persoalan industri
modern yang menimbulkan kerusakan lingkungan, pemanasan iklim global, dan
ancaman kelangsungan bumi dihadirkan secara tersorot dan tersurat dalam cerpen Dongeng Pendek tentang Kota-kota dalam
Kepala; kemanusiaan sengketa politik tahun 1965 di Indonesia yang sangat
keterlaluan dihadirkan secara tersirat dan tersurat dalam cerpen Kabut Ibu; dan juga kekacauan-kekacauan
sosiopsikologis diri manusia di tengah perubahan dihadirkan secara tersorot dan
tersirat dalam Rumah yang Mennggigil dan
Dua Hal Paling Menyedihkan Dalam Hidup
Marta.
Di
antara 20 cerpen dalam buku ini, buku ini dimulai dengan cerpennya yang
berjudul Dongeng Pendek tentang Kota-kota
dalam Kepala. Dalam karya ini berisikan masalah tragedi ekologi yang
berwujud bencana lingkungan yang dahsyat dan mengancam kelangsungan hidup bumi
selain mengakibatkan kekacauan tata-kehidupan sosial manusia. Cerpen ini terbagi
menjadi tujuh bagian pendek-pendek, yaitu Kota Tungku, Kota Sampah, Kota
Lumpur, Kota Perempuan, Kota Lapar, dan Kota Katasrofa.
Dengan
cerita yang terasa seperti sindiran, masing-masing kota tersebut digambarkan
dengan kondisi kerusakan lingkungan yang sangat buruk. Dimulai dari Kota Tungku
yang mataharinya hampir tidak tidur dan siang terasa lima kali lipat lebih lama
dari biasanya; Kota Sampah yang dipenuhi dengan lalat-lalat berpesta di bukit-bukit
sampah di seluruh kota; Kota Lumpur yang semua penduduknya bisa mengeluarkan
lumpur dari tubuhnya akibat melakukan dosa; Kota Perempuan yang para wanitanya beramai-ramai
memperkosa laki-laki semua laki-laki saling menyukai sesamanya; Kota Lapar yang
penduduknya selalu lapar bahkan memakan tanah dan bangkai agar perutnya tak
berbunyi; dan Kota Katasrofa yang setiap harinya sudah diagendakan akan terjadi
kematian massal.
Buku
ini memiliki jalan cerita yang sangat menarik karena sangat imajinatif namun
tetap diambil dari fakta dan realita. Cerpen-cerpen ini ditulis dengan struktur
yang sederhana tanpa perumitan rangkaian peristiwa. Gaya bahasa
yang digunakan memiliki kemiripan dengan gaya bahasa dongeng. Terasa
kemiripannya dengan frasa-frasa yang membuka dongeng ketika penulis membuka
ceritanya. Masing-masing cerpen dalam buku ini berakhir dengan kejutan yang
kelu, menyedihkan, atau mengecewakan. Di dalam masing-masing cerpen diselingi
dengan ilustrasi bergaya surealisme, sangat sesuai dengan suasana cerita yang
dikisahkan.
Buku ini hampir tidak memiliki kekurangan. Sampul bukunya yang kurang menarik mungkin menjadi salah satu faktor yang kurang memikat orang untuk mengambil buku ini untuk dibaca. Pembawaannya yang seperti dongeng namun tetap berdasarkan fakta dan realita menjadikan buku ini cocok dibaca bagi remaja dan bahkan dewasa.
Komentar
Posting Komentar