Is Maulidia (18) XIIA4 Resensi
Judul Buku : How To Think Like Sherlock Holmes
Nama Penulis : Peter Hollins
Penerbit Buku : Penerbit Bhuana Ilmu Populer, Kelompok Gramedia
Tahun Terbit Buku : 2021
Tebal halaman : 196 halaman
ISBN : 978-623-04-0231-9
Pada halaman pertama buku ini, kita sebagai pembaca sudah diajak untuk berlatih bagaimana cara memecahkan masalah dengan cepat dan tepat. Penulis mencoba menggiring dan membentuk pola pikir pembaca buku ini untuk mampu berlatih mengenai pemecahan masalah. Disini penulis mencoba menggiring pola pikir pembacanya dengan cara menceritakan siapa itu Sherlock Holmes dan apa saja latar belakang kehidupan Sherlock Holmes.
Penulis menceritakan siapa itu Sherlock Holmes dari berbagai sudut pandang, diantaranya adalah sudut pandang Raja Sandi yang berpendapat bahwa Sherlock Holmes adalah ahli pemecah kode dalam angka, kata, simbol, atau pola yang digunakan untuk menjaga kerahasiaan isinya dari orang yang tidak memahami kode tersebut. Selain itu, Peter Hollins juga menunjukkan pada pembaca tentang bagaimana Sherlock Holmes bisa mendapatlan bakat yang begitu luar biasa di bidang pemecahan masalah. Peter Hollins menuliskan bahwa Sherlock Holmes mendapat bakat dalam bidang pemecahan masalah berkat belajar dari pengalamannya selama bertahun - tahun yang pada akhirnya dapat membuat Holmes mampu mengenali pola dan trik komunikasi yang digunakan para kriminal dalam merencanakan kejahatan.
Tentunya dengan penggambaran tentang pengalaman Holmes tersebut dapat menambah pengetahuan pembaca buki ini mengenai pemecahan masalah yang bisa diselesaikan dengan menggunakan angka, kata, simbol, atau pola seperti yang dilakukan oleh Holmes. Selain itu, terdapat pula kelebihan lain yang dimiliki buku ini, yaitu penjelasan bagaimana kendala kreatif dapat membangkitkan solusi menakjubkan bagi berbagai permasalahan.
Seperti, cedera karier. Poin ini adalah poin yang paling saya sukai, karena Hollins menganalogikan cedera karier sebagai awan yang gelap yang akan selalu memiliki cahaya kilat. Selain menganalogikan, Hollins juga menyematkan kisah nyata yang dialami oleh Phil Hansen. Phil Hansen menyebutkan bahwa ia harus mengalami awan gelap bertahun - tahun untuk bisa menciptakan kilatnya sendiri. Nah, alasan mengapa saya menyukai poin ini karena poin ini bisa menggambarkan bagimana sebuah keterpurukan akan dapat digantikan oleh kebahagiaan yang datang di kemudian hari. Tentu analogi ini bisa memberi penggambaran pada para pembaca bahwa akan selau ada pelangi setelah datangnya badai, oleh karena itu, usaha yang dilakukan tidak harus berhenti hanya karena satu kegagalan yang menghampiri.
Sayangnya, penggunaan bahasa yang menurut saya terlalu baku membuat buku ini terlihat sedikit monoton dan kaku. Sehingga, jika dibaca oleh anak dibawah 15 tahun mungkin akan membosankan. Oleh karena itu, sebaiknya bahasa yang digunakan bisa dibuat lebih santai lagi agar buku ini bisa nyaman dibaca oleh anak - anak ataupun orang dewasa.
Komentar
Posting Komentar