Ratu Fathya (27) XIIA4 Resensi
Berpikir Secara Berbeda
Judul buku : The Doodle Revolution, Kekuatan Rahasia Untuk Berpikir Secara Berbeda
Nama penulis : Sunni
Brown
Penerbit buku : PT Gramedia
Pustaka Utama
Tahun terbit : 2016
Tebal halaman : 288 halaman
ISBN : 978-602-03-2843-0
Sunni Brown membuka bukunya dengan pembahasan dengan pentingnya belajar bahasa visual yang tidak diajarkan di rumah, di sekolah, maupun di kantor. Bisa jadi karena terdapat keyakinan yang salah (namun telanjur diyakini) bahwa menggambar adalah seni tingkat tinggi, khusus untuk orang kreatif, dan dibutuhkan keterampilan khusus. Padahal tanpa bahasa visual, kemampuan kognitif kita dapat menurun.
Bahasa visual merupakan potensi yang dimiliki oleh semua orang. Di zaman ini, perubahan terjadi dengan pesat sehingga bahasa visual penting dipelajari untuk menghadapi tantangan di masa mendatang. Bahasa visual yang dimaksud adalah doodle atau coretan. Buku ini menunjukkan bagaimana menjadikan doodle sebagai senjata bagi pembacanya.
Doodle berperan dalam meningkatkan kinerja organisasi dengan meningkatkan interaksi antaranggota tim. Saat ide dipaparkan lewat coretan dengan gambaran utuh, setiap orang akan merasa ambil bagian di dalamnya. Kinerja tim lebih strategis, taktis, dan kreatif sehingga muncul inovasi dan pemecahan masalah bersama.
Kita semua adalah doodler, bisa membuat coretan dengan mudah. Kita bisa memanfaatkan kemampuan ini untuk level yang lebih tinggi (infodoodler) dan meraih 3K kontribusi dari doodle yang telah disebutkan di atas (halaman 17). Dengan panduan buku ini kita bisa langsung mencoba membuat doodle dasar yang sangat menyenangkan, bahkan bagi pemula sekalipun, antara lain: mengenal abjad visual, membuat stick people, matriks wajah : untuk belajar menggambar emosi, face it : membuat wajah dengan mata tertutup.
Seperti yang dipaparkan di awal, membaca buku ini hanya akan berguna ketika digunakan. Kita hanya perlu mengikuti setiap bab. Tak hanya tulisan membosankan yang didapat, tetapi juga terdapat ilustrasi untuk memahami tulisan.
Sebagai buku terjemahan, sebagian tulisan masih terpengaruh bahasa aslinya sehingga butuh waktu untuk mencerna maksud penulis. Sebaiknya tidak membaca halaman buku ini secara acak, karena ada penjelasan bertahap dari satu bab ke bab berikutnya. Namun demikian, buku ini direkomendasikan bagi para penggiat literasi visual.
Komentar
Posting Komentar